Sabtu, 29 Januari 2011

Teknik Inseminasi Buatan Pada Sapi



LAPORAN KULIAH KERJA PRAKTIK
DILAKSANAKAN PADA:
DINAS KESEHATAN HEWAN DAN PETERNAKAN
UPTD INKUBATOR KADER PETERNAKAN
SAREE, ACEH BESAR
 


Oleh:
MEUTIYA AGUSTINA
0708104010015

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
JANUARI, 2011



KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim,
          Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas karunia dan kehendak-Nya. Shalawat dan salam kita ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa perubahan dalam ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan Kuliah Kerja Praktik (KKP) pada jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Penulisan laporan ini merupakan tugas akhir dari serangkaian kegiatan Kuliah Kerja Praktik yang berjudul “ Teknik Inseminasi Buatan (IB) Pada Sapi di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree, Aceh Besar”.
          Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga kepada orang tua, Ayahanda Abdullah Rasyid dan Ibunda Nurhayati, serta seluruh keluarga tersayang adikku Agus, Nauval, Daniel dan Salsa. Terima kasih dengan sepenuh hati atas cinta, doa serta dorongan moril dan materil yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan Kuliah Kerja Praktik ini dengan baik. Dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Praktik ini penulis juga banyak mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru dari berbagai pihak, untuk itu dengan sepenuh hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Ibu Widya Sari, M.Si selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, dan dorongan dalam penyelesaian laporan ini.
2. Bapak M.Ali, SP selaku pembimbing lapangan di UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree, Aceh Besar, yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama KKP.
3. Bapak Dr. Zairin Thomy, M.Si selaku Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unsyiah.
4. Bapak Dr. Mustanir, M. Sc, selaku Dekan Fakultas MIPA
5. Bapak Amiruddin, Ibu Nurlela Wati, dan Ibu Sri yang telah banyak memberikan informasi dan berbagi ilmu pengetahuan kepada penulis selama berada di institusi KKP.
6. Teman-teman dan pegawai di institusi KKP yang telah banyak membantu dan berbagi informasi kepada penulis.
7. Semua sahabat penulis, Iwan Ikhtiara, Amrizal, Ellena, Jaili, Sumeinika, Darliana, Gadissa, Milda dan seluruh angkatan 2007 serta semua mahasiswa Biologi yang selalu memberikan dukungan dan semangat bagi penulis dalam menyelesaikan laporan KKP ini.
          Harapan penulis semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu Pengetahuan dan bila dalam tulisan ini terdapat kekeliruan maka sangat diharapkan kritik dan saran yang membangun.

Banda Aceh, 04 Januari 2011
                                                                                                        (Penulis)



BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
          Produksi sapi selama tahun 2005 hingga tahun 2009 di Indonesia meningkat sekitar 4,4% per-tahun, namun belum mampu memenuhi kebutuhan daging sapi. Sebanyak 40% daging sapi masih dipenuhi dari impor. Total penyediaan daging sapi di Indonesia dari tahun 2005-2009 masing- masing 272,1 (tahun 2005), 317,11 (tahun -2006), 272,1 (tahun 2007) 313,6 (tahun 2008) dan 322,1 tahun (2009) dalam satuan ribu ton (Ditjen Peternakan, 2009).
          Terbatasnya sapi pejantan unggul di Indonesia, merupakan persoalan dalam upaya meningkatkan populasi bibit sapi unggul untuk memenuhi kebutuhan daging yang masih belum mencukupi. Kualitas dan kuantitas produk budidaya ternak sapi sangat dipengaruhi pada kualitas bibit yang digunakan, sehingga pemerintah perlu mengambil kebijakan yang tepat untuk membangun dan meningkatkan perbibitan sapi nasional. Kebijakan di bidang pemibitan tersebut harus mampu mendorong kemajuan di bidang industri pemibitan di tanah air, sehingga peternak terjamin dalam memperoleh bibit unggul secara berkelanjutan sesuai jumlah, jenis dan mutu genetik yang dibutuhkan. Salah satu cara yang sering digunakan adalah dengan menggunakan teknik inseminasi buatan (Sinar Tani Online, 2008).
          Inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu teknik untuk memasukkan spermatozoa atau semen jantan yang telah dicairkan dan diproses terlebih dahulu kedalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun‘. IB merupakan salah satu teknik menghasilkan sapi unggul serta perbaikan mutu genetik. Semen dari seekor sapi jantan dapat dipergunakan untuk menginseminasi sampai beberapa ekor sapi betina (Wodzicka, 1991). Aplikasi teknologi IB dengan mengunakan semen pejantan yang telah diseleksi untuk produksi bibit sapi unggul, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan juga perbaikan mutu genetik sapi lokal yang berlipat ganda dalam waktu relatif singkat (Toelihere, 1985).
          Inseminasi buatan diperkenalkan oleh orang Belanda ke Indonesia sebelum tahun 1950, tetapi penerapannya tidak meluas, hanya terbatas pada balai-balai penelitian saja (Soebadi, 1980). Sejak tahun 1970-an telah mulai dikenal inseminasi buatan di Indonesia secara meluas dengan menggunakan semen beku. Semen beku tersebut diperoleh dari bantuan pemerintah Inggris dan Selandia Baru. Dengan demikian penyebaran bibit sapi unggul dapat terus berkembang di Indonesia secara efisien melalui pelayanan inseminasi buatan (Maskresno, 2008).
          UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree mempunyai tanggung jawab untuk mengajarkan inseminasi buatan, yang bertujuan menghasilkan sapi unggul dan peningkatan produktivitas sapi, dengan cara merekrut remaja-remaja putus sekolah/drop out dan masyarakat, untuk dididik menjadi ahli fasilitator bagi masyarakat peternak agar menerapkan sistem inseminasi buatan tersebut, agar terpenuhinya kebutuhan ternak pedaging di Aceh. Berdasarkan hal tersebut dilakukan Kuliah Kerja Praktik untuk mempelajari teknik inseminasi buatan pada Sapi.

1. 2. Tujuan Kuliah Kerja Praktik
          Kuliah Kerja Praktik ini bertujuan untuk mengetahui teknik perawatan sapi dan teknik inseminasi buatan (IB) pada sapi yang digunakan oleh UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree,

1.3. Manfaat Kuliah Kerja Praktik
          Manfaat Kuliah Kerja Praktik ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melakukan inseminasi buatan (IB) dan perawatan sapi untuk aplikasi inseminasi buatan (IB).


BAB II
PROFIL ORGANISASI DAN MANAJEMEN

2.1. Sejarah Singkat dan Lokasi Institusi
          Sekolah Pengamat Kehewanan (SPK) Saree Aceh didirikan pada tahun 1968 dengan masa pendidikan selama 1 (satu) tahun ajaran. Tujuannya untuk mendidik para pemuda pemudi, guna memenuhi kekurangan tenaga mentri hewan. Pada tahun 1969/1970 namanya berubah menjadi Sekolah Kehewanan Menengah Atas (SKMA) yang berlangsung selama 1 (satu) tahun ajaran. Berdasarkan surat keputusan Gubernur Aceh no. 59 tahun 2001 tanggal 27 Desember 2001 bertepatan dengan 12 Syawal 1422 Hijriah tentang susunan organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis dinas (UPTD) Inkubator Kader Peternakan Dinas Peternakan Provinsi Aceh maka Sekolah Pengamat Kehewanan (SPK) Saree Aceh berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) inkubator kader peternakan dinas Peternakan Provinsi Aceh.
          Lokasi UPTD Inkubator Kader Peternakan terletak di Dusun Suka Makmur, Desa Suka Damai, Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Secara geografis terletak di perbukitan Gunung Selawah dengan jarak lokasi lebih kurang 71 km dari Kota Banda Aceh. Sebelah timur berbatasan dengan SPPN/pasar Saree, sebelah barat berbatasan dengan Gunung Selawah, sebelah utara berbatasan dengan Desa Saree Aceh dan sebelah selatan berbatasan dengan Kompleks SPP dan Gunung Selawah. Luas areal lebih kurang 29,29 Ha berdasarkan surat kepala kantor wilayah badan pertahanan nasional Provinsi Daerah Istimewa Aceh dengan GS No. 26/AB/1990 pada tanggal 5 November 1990.

2.2. Bidang dan Skala Kerja Institusi
          Tugas pokok dari unit pelaksana teknis dinas (UPTD) Inkubator Kader Peternakan di lingkungan Dinas Peternakan Provinsi Aceh adalah merekrut pemuda pemudi putus sekolah/drop out maupun perusahaan untuk menciptakan pengusaha mandiri secara berkala sesuai kebutuhan yang pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja di bidang peternakan yang akan memfasilitasi peternak di daerah dan dapat meningkatkan pendapatan petani/pendapatan asli daerah secara terorganisir.

2.3. Manajemen dan Struktur Organisasi Institusi
          Struktur manajemen dan organisasi UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree adalah:
1. Kepala Dinas Peternakan Provinsi Aceh
2. Kepala unit pelaksana teknis dinas (UPTD) Inkubator Kader Peternakan
3. Seksi Pendidikan dan Pengajaran
a. pelaksana rekrutmen kader peternakan secara berkala
b. penyiapan kurikulum, silabus dan materi bahan pengajaran
c. pelaksana proses belajar mengajar dan praktek
4. Seksi Inkubasi
a. pelaksana usaha agribisnis bergerak dalam bidang:
- ternak potong
- ternak perah
- ternak kecil
- ternak unggas
b. pelaksanaan usaha
- penetasan telur
- pasca panen dan HMT
- pelayanan kesehatan ternak
          Bagan susunan organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis dinas (UPTD) inkubator kader peternakan dilingkungan dinas Peternakan Pemerintah Aceh (Lampiran 4).
Dinas Peternakan Dinas Peternakan Provinsi Aceh pada saat ini berjumlah 17 orang dengan klasifikasi sebagai berikut:
1. Pendidikan
a. Sarjana(S2) : -
b. Sarjana (S1) : 7 orang
c. Diploma (D3) : -
d. SNAKMA : 9 orang
e. SLTA : 1 orang
f. SLTP : -
2. Golongan Kepangkatan
a. Golongan IV : 1 orang
b. Golongan III : 12 orang
c. Golongan II : 4 orang
d. Golongan 1 : -

2.4. Proses Kerja Secara Umum
          Berdasarkan tugas pokok tersebut maka fungsi UPTD Inkubator Kader Peternakan di lingkungan Dinas Peternakan Aceh adalah:
1. Pemberian inkubasi peternakan bagi pemuda pemudi putus sekolah/droup out maupun perusahaan untuk menjadi pengusaha-pengusaha mandiri di bidang peternakan
2. Pembentukan fasilitator peternakan
3. Penetapan komoditi dan kelayakan usaha peternakan
4. Pelaksanaan analisa dan evaluasi terhadap masing-masing unit usaha untuk dikembangkan di tengah-tengah masyarakat.
5. Memfasilitasi perolehan modal usaha dan pemanfaatan modal secara intensif.
Kewenangan UPTD Inkubator Kader Peternakan di lingkungan Dinas Peternakan Provinsi Aceh untuk dapat melaksanakan fungsinya adalah :
a. Menyusun rencana teknis operasional
b. Melakukan rekrutmen secara berkala
c. Melakukan kerja sama operasional dengan berbagai pihak untuk pengembangan usaha peternakan (UPTD, 2002).

 
BAB III
METODE KERJA

3.1. Waktu dan Tempat
          Kuliah Kerja Praktik ini dilaksanakan mulai dari tanggal 05 Juli 2010 sampai dengan 31 Juli 2010. Tempat pelaksanaanya di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree, Aceh Besar.

3.2. Ruang Lingkup Kerja
3.2.1. Pembersihan kandang
          Pembersihan kandang dilakukan secara rutin setiap hari pada pagi dan sore hari. Setiap hari kandang harus dibersihkan dari feses. Lantai kandang terbuat miring ke arah belakang dan samping kandang, tujuannya adalah untuk memudahkan pembuangan feses dan menjaga kondisi lantai tetap kering. Feses bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dengan cara dialirkan melalui parit-parit kecil ke kebun pakan hijau yang terletak di belakang kandang. Lantai kandang yang bersih sangat berpengaruh terhadap kebersihan udara di dalam kandang itu sendiri, sehingga ternak dalam kandang tersebut nyaman dan tidak mudah terserang penyakit (Lampiran 3).

3.2.2. Pemberian pakan
          Sapi dikelompokan menjadi dua kelompok berdasarkan pemberian pakan, sapi yang digembalakan dan sapi yang tidak digembalakan. Sapi yang digembalakan dilepaskan pada pagi hari ke padang rumput yang telah disediakan dan dibawa kembali ke kandang pada sore harinya. Sapi yang tidak digembalakan, pemberian pakan dilakukan dalam kandang pada pagi dan sore hari. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan rumput colonjono (Brachiaria mutica) (Lampiran 3).

3.2.3. Inseminasi buatan (IB) pada sapi
          UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree, Aceh Besar mempunyai 28 sapi. Dalam pengamatan pelaksanaan IB pada KKP ini dilakukan inseminasi terhadap tiga ekor sapi, yaitu dua ekor sapi peranakan Simental dan Brahman serta satu ekor sapi Limosin (Lampiran 3).

3.3. Alat dan Bahan
          Alat-alat yang digunakan dalam KKP ini adalah tali, nostal, sarung tangan, timba, pinset, gunting, insemination gun, termos, plastic sheet, kontainer, kapas, alat tulis, dan camera. Bahan-bahan yang dipakai adalah semen beku (straw), air, minyak makan, nitrogen cair (N2).

3.4. Metode dan Proses Kerja
          Metode kerja yang digunakan dalam KKP ini adalah metode partisipatif dan pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil praktik dan pengamatan di lapangan. Sedangkan data sekunder didapat dari wawancara dengan petugas setempat dan literatur yang berkaitan dengan IB.

3.4.1. Sinkronisasi Birahi
          Sinkronisasi birahi merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk membuat sapi betina mengalami birahi secara serentak dengan cara memanipulasi proses-proses reproduksinya, dengan menyuntikan hormon Capriglandin setelah 7 sampai 9 hari sesudah siklus birahi terjadi. Penyuntikan dilakukan secara intra mukosa (vulva) sebanyak 2 cc (Lampiran 3).

3.4.2. Pemeriksaan Birahi
          Sebelum proses kerja IB dilakukan, sapi harus dalam keadaan birahi, dengan mengamati bagian vulvanya. Sapi yang birahi akan menunjukkan tanda-tanda seperti vulva bengkak, warna lebih merah, keluar lendir bening. Vulva terasa hangat dan ekornya mudah diangkat. Cara lain untuk mengetahui sapi birahi dapat dilakukan palpasi perektal (Lampiran 3).

3.4.3. Inseminasi Buatan (IB)
          Sebelum inseminator melakukan inseminasi, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan keadaan sapi apakah dalam keadaan birahi atau tidak. Untuk memudahkan pemeriksaan, sapi di masukkan kedalam nostal (kandang penjepit). Setelah diketahui kondisi birahi pada sapi maka siap untuk diinseminasi, inseminator akan meminta air untuk thawing dan minyak makan sebagai pelicin tangan. Berikutnya inseminator akan menyiapkan peralatan inseminasi seperti straw dari dalam thermos kecil berisi N2 cair, insemination gun, plastic sheet, pinset, kapas, gunting dan sarung tangan plastik. Setelah itu inseminator mencuci tangan dan menyiapkan sarung tangan plastik, kemudian melakukan thawing. Thawing dilakukan dengan mencelupkan straw ke dalam air 15-30 detik, kemudian straw diambil dan dikeringkan dengan kapas lalu dimasukkan ke dalam insemination gun. Setelah ujung straw digunting baru plastic sheet dipasang. Inseminator membersihkan daerah vulva dari feses dengan kapas. Palpasi perektal dilakukan untuk mencari servik sebelum memasukan insemination gun. Setelah itu semen akan diinjeksi melalui servik dari ujung gun ke cincin keempat (cornua) (Lampiran 3).

3.4.4. Evaluasi Keberhasilan
          Keberhasilan IB dapat ditentukan dengan mengamati siklus birahi sapi, jika 21 hari setelah dilakukan IB dan sapi tidak mengalami birahi pertama, juga tidak mengalami birahi siklus kedua, maka sapi dinyatakan bunting berumur 42 hari.

 
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Kuliah Kerja Praktik
         Hasil pengamaatan Kuliah Kerja Praktek (KKP) di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan UPTD Inkubator Kader Peternakan Saree, Aceh Besar adalah sebagai berikut:
4.1.1. Sinkronisasi birahi
          Sinkronisasi birahi terjadi dalam 48 jam sesudah penyuntikan hormon Capriglandin. secara intra mukosa vulva pada dua ekor sapi peranakan Simental dan Brahman.
4.1.2. Pemeriksaan birahi
          Pemeriksaan birahi pada ketiga ekor sapi di UPTD selama KKP yaitu dua ekor sapi peranakan Simental dan Brahman yang di sinkronisasai dengan hormon capriglandin dan satu ekor sapi Limosin dengan siklus reproduksi normal birahi sapi berkisar 21 hari.
4.1.3. Inseminasi buatan (IB)
          Inseminasi Buatan berhasil dilakukan terhadap tiga ekor sapi, yaitu dua ekor sapi peranakan Simental dan Brahman yang diinjeksi straw simental dan satu ekor sapi Limosin yang diinjeksi straw Limosin.
4.1.4. Evaluasi keberhasilan
          Evaluasi keberhasilan terhadap ketiga ekor sapi, tidak diamati secara langsung oleh penulis, dikarenakan masa KKP hanya satu bulan dan hanya mendapatkan informasi keberhasilan inseminasi dari Inseminator (Pemimbing Lapangan) setempat.

4.2. Pembahasan
4.2.1. Sinkronisasi Birahi
          Sinkronisasi birahi merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk membuat sekelompok sapi betina mengalami birahi secara serentak, dengan cara memanipulasi proses-proses reproduksinya. Beberapa keuntungan sinkronisasi antara lain sapi mengalami birahi sesuai dengan waktu yang diperkirakan, sehingga pelaksanaan IB menjadi lebih tepat dan praktis.
Sinkronisasi birahi di UPTD selama KKP dilakukan dengan menggunakan hormon Capriglandin, yang disuntikkan secara intra mukosa (vulva) betina (gambar 4.1). Penyuntikan hormon Capriglandin sebanyak 2 cc disesuaikan dengan bobot tubuh ruminansia, yang dilakukan setelah 9 hari sesudah terjadinya birahi. Selanjutnya, birahi terjadi setelah 48 jam. Hormon Capriglandin memiliki komposisi berupa prostaglandin, yang akan menginduksi terjadinya regresi (runtuhnya) korpus luteum. Salisbury (1985) menyatakan bahwa prostaglandin menyebabkan lisisnya korpus luteum, yang akan mempengaruhi siklus estrus yang sedang berlangsung. Lisisnya korpus luteum diikuti dengan penurunan progesteron yang dihasilkan, akibatnya terjadi pembebasan serentak GnRH dari hipotalamus, diikuti dengan pembebasan FSH dan LH dari pituitari anterior, sehingga terjadilah estrus dan ovulasi. Prostaglandin hanya efektif bila ada korpus luteum yang berkembang, antara hari 7 sampai 18 dari siklus estrus alami. Kemudian birahi akan muncul berkisar 24 jam, 48 jam atau 72 jam kemudian, semakin sapi tersebut bagus (sehat) maka semakin cepat pula terjadinya birahi. Bila hal ini dilakukan secara bersama-sama dalam satu kelompok ternak sapi, maka akan memunculkan birahi secara serentak.

Gambar 4.1. Penyuntikan hormon Capriglandin

          Setelah penyuntikan hormon Capriglandin sapi akan menunjukkan gejala birahi antara lain terlihat gelisah dan berusaha menaiki sapi lain, mengangkat ekor, mencium bagian belakang sapi lainnya, vulva membengkak, berwarna merah, keluar lendir berwarna bening, suka mendekati pejantan, diam ketika dinaiki pejantan dan terkadang nafsu makannya menurun. Keberhasilan tertinggi didapat jika inseminasi dilakukan 8-9 jam setelah birahi terlihat. Ketepatan pengamatan birahi akan menentukan ketepatan inseminasi.

4.2.2. Pemeriksaan birahi
          Sebelum melakukan inseminasi buatan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan birahi, tujuannya adalah untuk meningkatkan keberhasilan IB. Birahi ialah suatu periode yang ditandai dengan perilaku ingin kawin seekor ternak betina dan penerimaan pejantan untuk kopulasi.
          Pemeriksaaan birahi di UPTD selama KKP dilakukan pada tiga ekor sapi, yaitu dua ekor sapi yang di singkronisasi birahi dan satu ekor sapi dengan siklus birahi normal. Dalam pengamatan sapi yang disingkronisasi birahi, menimbulkan gejala-gejala birahi setelah 48 jam penyuntikan hormon. Satu ekor sapi dengan siklus normal birahi, menimbulkan gejala-gejala birahi setelah 21 hari.
          Deteksi birahi adalah pengamatan terhadap tanda-tanda (gejala-gejala) birahi pada sapi yang akan diinseminasi. Langkah-langkah untuk mengamati tanda-tanda birahi perlu diajarkan kepada peternak, pemilik, atau penggembala. Hal ini dimaksudkan agar peternak dapat melaporkan kepada petugas inseminasi buatan (inseminator), sehingga pelaksanaan inseminasi buatan tepat waktu (Wodzicka, 1991).
          Pengamatan waktu birahi sapi di UPTD selama KKP, dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi hari dilakukan pemeriksaan di dalam kandang dan pada sore hari dilakukan pada saat sapi di padang rumput. Pengamatan tersebut dilakukan dengan mengamati bagian vulva yang membengkak dan mengeluarkan lendir pada betina seperti gambar 4.2, atau tingkah sapi jantan yang mengejar-ngejar dan menaiki sapi betina, karena pejantan dapat mencium bau sapi betina yang sedang birahi dan mengeluarkan lendir. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soebadi, (1987) yang menyatakan pemeriksaan birahi sapi sebaiknya di lakukan pada pagi hari dan sore hari. Deteksi birahi terhadap sapi dapat langsung diamati didalam kandang, tetapi akan lebih baik apabila dilepaskan di lapangan atau halaman, bersama dengan kelompoknya. Siklus reproduksi normal birahi berkisar 18 sampai 21 hari (Wodzicka, 1991).
 

Gambar 4.2. Sapi yang mengeluarkan lendir saat birahi

4.2.3. Inseminasi Buatan (IB)
          Sapi betina yang telah dewasa kelamin dan siap kawin secara alam atau kawin buatan berumur 32 bulan. Setelah sapi menunjukkan gejala birahi maka sapi tersebut telah siap untuk di inseminasi. Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan semen pada puncak kesuburan ternak betina. Kesuburan ternak betina terjadi pada waktu menjelang ovulasi, yaitu 18 jam sesudah birahi. Waktu terjadinya ovulasi selalu terkait dengan periode birahi. Pada umumnya ovulasi berlangsung sesudah akhir periode birahi yang ditandai dengan keluar lendir yang tidak terputus-putus dan sangat kental dari vulva sapi betina, pada saat inilah waktu proses inseminasi tepat untuk dilakukan, biasanya 8 sampai 9 jam dari masa birahi, yang dikarenakan pada saat tersebut servik mulai terbuka lebar. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.3.

Gambar 4.3. Inseminasi Buatan pada sapi

          Pelaksanaan inseminasi buatan di UPTD selama KKP dilakukan terhadap tiga ekor sapi, sapi yang telah di inseminasi tidak dilepas kedalam kelompok, agar tidak terjadi birahi kembali. Dalam hal ini dilakukan pengamatan yaitu dua sapi yang telah diinseminasi tidak dilepas kedalam kelompok untuk menjaga agar sapi tidak mengalami birahi kembali dan mengeluarkan lendir bersama spermatozoa yang telah diinjeksi. Sedangkan satu ekor sapi yang telah diinseminasi dilepaskan kedalam kelompok dan sapi tersebut mengalami birahi kembali dan dilakukan inseminasi kembali setelah 9 jam kemudian. Inseminasi dapat dilakukan setelah 9 sampai 18 jam dari masa birahi tetapi sedikit mengalami kesulitan dikarenakan servik mulai tertutup, dan sesudah 18 jam maka servik akan tertutup semua sehingga sulit ditembus gun. Tahapan inseminasi buatan dapat dilihat pada gambar 4.5.

Gambar 4.5. Skema Urutan Pelaksanaan teknik IB pada Sapi .
          
          Menurut Hafez (1993) Inseminasi Buatan (IB) adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoa. Potensi yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, terutama yang unggul, dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina.
          Pelaksanaan IB di UPTD saat KKP, inseminator akan mengenjeksi semen ke dalam cincin keempat, seperti skema pada gambar 4.5, untuk memperoleh hasil IB yang baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Senger (2003) menyatakan Inseminasi lebih baik dilakukan di cornual. Dari gambar 4.6 dilakukan pengenjeksian semen dengan dua cara, yaitu diinjeksi pada bagian servik dan diinjeksi pada bagian cornua. Volume inseminasi pada kedua gambar tersebut adalah 0,5 ml. Inseminasi cornual mengurangi kemungkinan kehilangan spermatozoa yang terjadi di servik.


                                                         (a)                           (b)               (c)
Gambar 4.6. Teknik IB dan hasil radiografi Sapi Betina (Senger, 2003), (a) palpasi rektal sapi betina, (b) pengenjeksian yang dilakukan di servik, (c) pengenjeksian yang dilakukan di cornua. Rul = uterus kanan ; LUL = uterus kiri; RO= ovarium kanan ; S = Spermatozoa; AIS = insemination gun; CX = serviks.

          Keuntungan inseminasi buatan (IB) yaitu untuk menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan, dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik. mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina, dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama, semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati, menghindari kecelakaan yang
sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar, dan menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
           Kerugian inseminasi buatan (IB) yaitu apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi kebuntingan, akan terjadi kesulitan kelahiran, apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed/ turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil. bisa terjadi kawin sedarah apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama, dan dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (Soebadi, 1980).

4.1.4. Evaluasi Keberhasilan
           Keberhasilan IB dapat ditentukan dengan mengamati siklus birahi sapi, jika 21 hari setelah dilakukan IB dan sapi tidak mengalami birahi pertama, dan juga tidak mengalami birahi siklus kedua, maka sapi dinyatakan bunting berumur 42 hari. Evaluasi keberhasilan terhadap ketiga ekor sapi, tidak diamati secara langsung oleh penulis, dikarenakan masa KKP hanya 1 bulan. Informasi inseminasi didapatkan penulis dari Inseminator atau Pembimbing Lapangan setempat.
          Keberhasilan IB pada ternak ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu kualitas semen beku (straw), keadaan sapi betina sebagai akseptor IB, ketepatan IB, dan keterampilan tenaga pelaksana (inseminator). Faktor ini berhubungan satu dengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah akan menyebabkan hasil IB juga akan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan reproduksi tidak optimal (Toelihere, 1997).
          Permasalahan utama dari semen beku adalah rendahnya kualitas semen setelah di thawing yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada struktur, biokimia dan fungsional spermatozoa yang menyebabkan terjadi penurunan daya hidup, Kerusakan membran plasma, tudung akrosom, kegagalan transport dan fertilisasi. Permasalahan kedua pada sapi betina (akseptor IB) dalam kaitannya dengan kinerja reproduksi. Selanjutnya, Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan semen pada puncak kesuburan ternak betina. Puncak kesuburan ternak betina adalah pada waktu menjelang ovulasi.
         Apabila semua faktor di atas diperhatikan, diharapkan bahwa hasil IB akan lebih tinggi atau hasilnya lebih baik dibandingkan dengan perkawinan alam. Hal ini berarti dengan tingginya hasil IB diharapkan efisiensi produktivitas akan tinggi pula, yang ditandai dengan meningkatnya populasi ternak dan disertai dengan terjadinya perbaikan kualitas genetik ternak, karena semen yang dipakai berasal dari pejantan unggul yang terseleksi. Dengan demikian peranan bioteknologi IB terhadap pembinaan produksi peternakan akan tercapai.

 
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Hormon Capriglandin dapat mempercepat siklus birahi.
2. Semen yang digunakan dalam inseminasi buatan di UPTD diperoleh dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari.
3. Sebelum melakukan inseminasi, keadaan sapi harus dalam keadaan birahi.
4. Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan semen pada puncak kesuburan ternak betina.
5. Pengenjeksian semen dilakukan kedalam cicin keempat (cornua).

5.2. Saran
1. Sapi yang telah diinseminasi, sebaiknya tidak dilepas dahulu kedalam kelompok, untuk mencegah kegagalan inseminasi buatan.
2. Peternak diharapkan mengetahui dengan baik gejala-gejala timbulnya birahi pada sapi, dan segera melaporkan pada inseminator agar tidak terjadi keterlambatan inseminasi buatan.
3. Penyuluhan diharapkan dilakukan kepada masyarakat, agar lebih mengetahui dan lebih paham dengan inseminasi buatan.

 
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen Peternakan. 2009. Renstra Kecukupan Daging Sapi Tahun 2010-2-14. Semnas Pengembangan Ternak Potong untuk Mewujudkan Program Kecukupan/Swasembada Daging, Fafet UGM, Yogyakarta.
Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6 Th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. Hal 424-439.
Maskresno. 2008. Rahasia Sexual Sapi Betina. http:// Rahasia Sexual Sapi Betina « My Weblog.htm. Tanggal akses 27 Oktober 2010.
Partodiharjo, Soebadi. 1987. Pemulia Biakkan Ternak Sapi. PT Gramedia, Jakarta.
Salisbury, G.W dan N.L. Vandemark. 1985. Fisiologi Reproduksi Dan Inseminasi Buatan Pada Sapi, diterjemahkan oleh R. Djanuar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sinar Tani Online.2008. Solusi Mempercepat Peningkatan Bibit Sapi Unggul Nasional. PT. Duta Karya Swasta, Jakarta.
Toelihere MR, 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung.
UPTD. 2002. Inkubator Kader Peternakan Proyek Pembinaan Sekolah Kedinasan Saree. Dalam Brosur: Pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Dinas Peternakan Provinsi, Banda Aceh.
Wodzicka, Manica-Tomaszewska, I Ketut Sutama, I Gede Putu, Thamrin D. Chaniago. 1991. Reproduksi, Tingkah Laku, Dan Produksi Ternak Di Indonesia. PT Gramedia, Jakarta.

 
LAMPIRAN 3
Foto Kegiatan

Gambar: teknik pembersihan kandang
 

Gambar: Pemotongan rumput dan pemberian pakan sapi
 
Gambar: Pelepaskan sapi dan pengambilan sapi pengembala
 
Gambar: teknik pengamanan sapi
 
Gambar: teknik pemeriksaan servik sapi
 
Gambar: penyuntikan hormon
 
Gambar : Periode akhir berahi yang ditandai lendir panjang
 
Gambar: melakukan Inseminasi Buatan (IB)

4 komentar:

  1. Thanks,,,,,,,,,,,,sumberx mbntu bgets

    BalasHapus
    Balasan
    1. dr aku thanks juga, ngopy gambar... arigato2

      Hapus
  2. Terimakasih informasinya,
    maaf izin copy gambarnya bung.

    BalasHapus
  3. Information yang menarik, mohon info mengenai pihak yang melayani insemination buatan di daerah bogor.
    Terima kasih
    Mufti Ghazali

    BalasHapus